Diari Hujan. Episode Akhir Bulan

Meski hari ini tak hujan atau pun gerimis tak menyapa, namun aku masih baik-baik saja disini. Tetap menanti matahari tenggelam dan menunggu bersinar kembali. Akhir bulan, semua akan berfikir hidup susah di akhir bulan. Namun kapan bulan akan berakhir, karena bulan terus dan terus berjalan. Namun tanggal demi tanggal berakhir kembali seperti sedia kala.


Namun aku tidak merasakan bulan muda ataupun akhir bulan. Karena keluargaku pas-pasan, bahkan bulan ini aku hanya di kirim 200 ribu saja. Atau tidak di kirim sama sekali. Memang susah hidup di perantauan. Ketika kita masih mengharapkan sama orang tua. Aku tidak memaksakan orang tuaku mengirimkan uang untukku. Jika ada di kirim jikalau tidak ada ya mau bagaimana lagi. Aku hanya akan meminta pada mereka ketika sangat mendesak sekali, seperti bayar kost, bayar uang kuliah dan uang dadakan lainnya.

Aku bersyukur, bisa bekerja sambil kuliah, meski penghasilan yang tidak banyak namun aku sudah sedikit mengurangi beban orang tua. Bekerja sebagai operator warnet, kadang temanku menilai gaji yang aku dapatkan tidak setimpal dengar pekerjaan ku. Biarkan saja mereka menilai, namun aku sudah merasa cukup. Bahkan mereka memberi saran agar mencari kerja sampingan yang lain. Ah itu yang membuatku malas, kerena sulit bagiku untuk beradaptasi dengan tempat baru. Karena aku hanya seorang pendiam yang berbicara ketika perlu saja.

Dari luar aku biasa saja, meski orang menilai ini itu. Pilih-pilih teman atau apupun nilai dari orang. Aku hanya akan tersenyum jika orang mengatakan keburukan ku. Karena orang yang seperti itu, sayang akan temannya dan ingin temannya untuk berubah. Meski sakit ketika mendengar ocehan dari mereka.

Terkadang aku iri pada beberapa temanku. Aku tak bisa seperti mereka, bisa meminta apapun pada orang tuanya. Namun tidak bagiku. Aku hanyalah seorang anak petani dan penjual sayur di pasar. Apa yang harus aku minta pada mereka? Namun aku bersyukur telah di lahirkan sebagai anak Mak dan Ayah.

Share:

0 komentar