Perempuan dan Perdamaian

"Suatu negara tidak akan berhasil kecuali dengan pemberdayaan setiap warga negaranya untuk berkontribusi demi masa depan negara tersebut. Dan tidak akan ada perdamaian yang dapat bertahan jika kaum perempuannya tidak mendapatkan peranan yang penting (John Kerry)"

Setiap manusia pasti ingin hidup damai dengan sesama. Bahkan di negara-negara maju sekalipun mereka mengupayakan banyak hal agar tetap hidup damai, meskipun masih ada perang yang masih belum kunjung selesai saat ini. 

Berbicara tentang kata Perempuan dan Perdamain, banyak dari perempuan-perempuan Aceh yang telah berdiri kokoh mengusulkan gagasan-gagasan agar tercipta kedamaian. Sebut saja Bunda Mala yang menjadi "Polisi Keadilan Rakyat" di Pidie Jaya yang telah banyak menyelesaikan kasus-kasus kecil yang ada di desanya. 

Polisi peradilan adat mungkin profesi itu sudah sangat lama tidak terdengar di telinga. Polisi Peradilan Adat (PPA) ini bukan hal baru, namun sudah ada sejak dahulu kala, namun seiring perkembangan zaman, PPA sudah ditetapkan kembali oleh pemerintah Aceh. PPA ini merupakan tugas dari Tuha Peut (orang yang di tuakan dalam sebuah desa), dan Bunda Mala duduk di lembaga tersebut. Telah banyak kasus yang telah di selesaikan oleh perempuan yang bernama lengkap Nurmalawati, mulai dari perkara KDRT, perselisihan tanah, dan lain sebagainya telah banyak di selesaikan olehnya. Ditengah sibuknya beliau mengurus rumah tangga yang juga menjadi kepala rumah tangga, ia masih sempat mengurus hal-hal yang sangat mulia di mata tuhan sang pencipta. 

Dalam menangani kasus banyak hal telah dilalui perempuan yang luar biasa ini, bahkan ia juga pernah mendapat teror alam menangani kasusnya. Bunda Mala, bak intelijen yang begitu jeli dan pintar menyelesaiakn setiap masalah yang ada di desanya. Bahkan Bunda Mala mengaku ia hanya belajar dari pengalaman orang tuanya untuk menyelesaiak konflik yang ada di desa. Sungguh pengalaman menjadi hal yang sangat berguna. (Untuk cerita Bunda Mala, Klik DISINI)

Lain Bunda mala, lain pula perempuan muda yang satu ini, ia adalah Khusnul Khatimah Adnan, yang mendapatkan penghargaan Pelita Nusantara 2013 dalam acara MDGs Award dari Presiden Republik Indonesia. Perempuan asal Sibreh, Aceh Besar ini begitu peduli dengan pendidikan, sehingga ia dan beberapa temannya membuat sebuah Taman Pendidikan Masyarakat (TPM) Tanyoe pada 7 Agustus 2011. Hal ini merupakan wujud dari kepeduliannya kepada generasi penerus bangsa yang semakin hari semakin menyimpang dengan berkembangnnya zaman. Dalam melakukan hal yang mulia ini banyak kendala yang di perolehnya, bahkan tak jarang Husnul kekurangan guru untuk meengajar di TPM, namun itu bisa teratasi dengan sendirinya. Karena ia memiliki banyak teman yang bisa di ajak untuk menajdi relawan guna berbagi ilmu kepada generasi penerus bangsa. (untuk cerita Husul, Klik DISINI)

Lain Husnul lain pula perempuan yang menjadi salah satu dosen Fakultas FISIP Unsyiah. Ia begitu gencar mengkampanyekan kepada mahasiswanya untuk tidak merokok. Ia adalah Rizanna Rosemery yang merupakan lulusan dari Universitas Of Sydney, Australia. Baginya rokok merupakan suatu kebiasaan yang harus di rubah. Tak jarang ia mengajarkan mahasiswanya untuk tidak merokok di depannya ataupun di sekitarnya, karena rokok memang sudah menjadi suatu kebutuhan yang sangat susah untuk di tinggalkan. Kegigihan ia mengkampanyekan tentang masalah rokok, karena rokok merupakan suatu akar dari penyakit yang harus di cabut. 

Dari ketiga tokoh di atas, merupakan sedikit dari peren perempuan untuk memajukan suatu daerah, mulai dari Hukum, Pendidikan, dan Kesehatan yang merupakan hal-hal simpel yang ada di sekitar kita. Peran perempuan sangat penting dalam segala aspek, di saat ketika seorang lelaki bersikap keras, masih perempuan yang bersikap lembut. 

Memilih berdamai bukan tidak adanya konflik yang terjadi, namun dalam memilih berdamai alangkah baiknya menggunakan semua lapisan masyarakat agar turut serta menyelesaikan masalah.  Suatu negara tidak akan berhasil kecuali dengan pemberdayaan setiap warga negaranya untuk berkontribusi demi masa depan negara tersebut. Dan tidak akan ada perdamaian yang dapat bertahan jika kaum perempuannya tidak mendapatkan peranan yang penting. Karena tidak hanya lelaki saja yang di anggap kuat, namun perempuan juga kuat, seperti Margaret Techer sang perdana mentri Inggris yang begitu gigih dan tangguh dalam menyelesaikan masalah negaranya yang besar dan maju. Ataupun seperti Illiza Saaduddin Djamal yang begitu gigih mengatakan bahwa Banda Aceh adalah kota Madani, kota yang aman namun tetap islami. Ataupun seperti Laksamana Malahayati yang namanya di kenang dunia akan keberaniannya memimpin angkatan laut untuk berperang melawan penjajah kolonial Belanda.


****
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Perempuan & Perdamaian yang diselenggarakan oleh www.gerakanperempuanaceh.org. Ingin tahu lebih lanjut tentang gerakan ini? Sila simak video berikut

Share:

0 komentar