Waktu

Oleh : Rahmat Amien

Panas, gerah. Itulah kesan hari ini yang begitu membuat badan begitu capek. Apalagi dengan ngatri selama tiga jam hanya untuk mengujukan judul skripsi yang membuat kepala ini pecah.

“hari ini, pak Ham rame juga pasiennya ya” ujar Sari, yang duduk di sebelahku.

“hahhaa, lumayan juga kata ku. Di dalam aja ada 6 orang, belum lagi yang di luar lagi pada ngantri” ujarku seadanya.

“laelah. Kapan kita siap ni. Udah jam berapa coba?” sambil menujukkan jam tangannya di lengan kanan Sari. Dan aku pun merogeh kantong mengambil handphone melihat angka yang tertera di sana.

“udah jam setengah 5 ni. Aku shalat dulu ya” ujarku pada Sari.

“Ok” balasnya sambil tersenyum.
Secepat kilat aku berlari menuju mushala yang berjarak sekitar 100 meter di depan ku. Dengan nafas ngos-ngosan akhirnya aku tiba di depan Mushalla. Namun aku mendapat sial hari itu. Mushallanya ternyata terkunci, dan aku tidak bisa masuk kedalam untuk menunaikan Shalat Ashar yang tertunda. Dengan cepat aku memutar otak memikirkan di mana mushalla terdekat di sini. Akhirnya aku kembali berlari menuju kampus Kedoteran Hewan yang tidak berada jauh dari tempatku berada sekarang. Aku terus berlari bagaikan di kerjar oleh harimau yang siap menerkam di belakangku. Dalam 2 menit akhirnya aku tiba di mushalla terdekat kampusku yang hanya berjarak 300 meter. 

Dengan penuh keringat dan wajah ngos-ngosan, aku berlari kecil menuju tempat wudhu untuk membasahi anggota badan, sebelum menunaikan ibadah shalat Ashar yang belum ku tunaikan. Meski pun ini belum telat, namun aku merasa berat dalam hati jika tidak berjamaah di masjid seperti yang sering aku kerjakan selama ini. Namun inilah perjuangan ku untuk hari ini yang melelahkan badan dan fikiranku ini.

Waktu terus berjalan dengan detik-detik jarum jam yang terus berputar pada porosnya. Meningalkan angka demi angka dengan pasti. Hingga aku selesai menunaikan kewajiban ku sebagai lelaki muslim, sore ini. Mentari masih dengan teriknya menyinari bumi ini. Dan aku kembali berlari menuju kampus dengan jarak 300 ratus meter di depan, berharap Sari masih menunggu ku di depan sana untuk koonsul judul skripsi. 

Ketika sampai di kampus aku tidak melihat lagi batang hidung Sari yang tadi duduk di depan prodi menunggu antrian. Lalu ku rogeh saku celana, untuk sekedar bertanya dengan mengetik pesan singkat kepada Sari. Namun di layar handphone tertera dengan jelas sebuah nama yang sudah tidak asing lagi “Sari Nurmala”. Dengan segera aku membaca isi pesan yang di kirimkan oleh Sari.

“Gam. Aku pulang duluan ya. Gak sanggup tunggu lagi ni. Udah hari panas lagi” itulah isi pesan singkat yang di kirim oleh Sari kepada ku sekitar 2 menit yang lalu, yang tidak aku ketahui sama sekali. Mungkin ketika aku sedang berlari tadi, makanya aku tidak merasakan ada SMS masuk, apalagi handphone Samsung Young yang ku gunakan aku silent sebelum aku menunaikan ibadah shalat Ashar tadi. Lalu dengan cepat aku me-replay pesan dari Sari.

“ya. Aku sendirian ni, gak ada kawan. Yaudahlah hati-hati di jalan ya :)”

Dengan hati yang sepi, aku menunggu antrian yang begitu panjang ini. Dan akhirnya tibalah giliranku, setelah menunggu selama dua jam setengah. Aku masuk ke ruangan tersebut jam 17:42, sekitar 18 menit lagi ketua jurusanakahan mengakhiri konsul bimbingannya hari ini. Dan pak Ham mengatakan, bagi yang tidak sempat lagi hari ini silahkan pulang dan datang lagi hari Sabtu. What hari Sabtu? Aku harus menunggu lagi selama 5 hari untuk konsul. Dengan hati sedikit dongkol sebagian yang tidak sempat konsul dengan pak Ham melangkahkan kakinya keluar ruangan, dan masih ada beberapa di antara mereka yang nekat menunggu.

“maaf pak, saya mau mengajukan judul. Ini sudah di ACC sama buk Dewi.”

“tidak ada tanda tangannya kok, mana buktinya di ACC”

“maaf pak, saya konsulnya via email, buk Dewi terlalu sibuk untuk saya jumpai”

“ok, sabtu tanggal 18 januari kamu kesini lagi ya. Dan silahkan catat nomor handphone kamu” sambil menyodorkan kertas usulan judul yang barusan aku kasih ke kajur di atasnya tertulis, Jadwal konsul Sabtu, 18 Januari 2014. Jam 9 pagi. Lalu dengan sigap aku mengambil kertas yang di berikan oleh pak Ham dan mencatat nomor handphone. 

“terima kasih pak, saya permisi dulu” pak Ham hanya tersenyum mendengarnya, lalu aku keluar melewati pintu. Dan kembali satu orang masuk menjumpai pak Ham. Kayaknya kakak itu mau ACC skripsi, karena wisuda hanya beberapa minggu lagi, dan sudah tak sabar untuk segera sidang skripsi.

Hatiku bercampur senang dan kesal. Karena harus menunggu 5 hari lagi untuk konsul judul saja. Mengapa tidak besok atau lusa saja, biar aku cepat pulang ke kampung halaman. Ini karena sudah enam bulan aku tidak pulang ke kampung halaman, hatiku ini seperti di panggil-panggiluntuk segera pulang ke sana. Namun inilah resiko yang harus di hadapai. Dan ini sepenuhnya salah ku, kenapa tidak dari seminggu yang lalu aku menjumpai pak Ham, dan tentunya tidak seperti ini, lagi pula buk Dewi sudah me-replay email yang ku kirim tanggl 5 januari lalu.

Share:

0 komentar