Monumen Nasional atau Monas adalah karya monumental yang
menjadi trademark Ibukota Jakarta. Ini impian dan obsesi presiden Soekarno
untuk memberikan warisan sejarah yang bisa menunjukkan harkat dan martabat
Indonesia di mata dunia.
Monumen yang memiliki tinggi 433 ft
atau 132 meter adalah menara di tengah Lapangan Merdeka, yang juga melambangkan
perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia. Konstruksi monumen ini dimulai tahun
1961 dan resmi dibuka untuk umum pada tahun 1975. Di atas monumen ini ada
gambaran api yang ditutupi dengan foil emas.
Hemm. akhir-akhir memang banyak sekallii tugas yang mengganggu fikiran mahasiswa. Capek dan sangat melelahkan memang. Kali dosen mata kuliah Fotografi memmberi kami tantangan, untuk mencari foto seperti ungkapan Aristoteles, seorang Filosof terkenal.
Aristoteles mengungkapkan "
Apabila seberkas cahaya melewati sebuah lubang (pintole) maka akan membentuk gambar" (322- 384SM)
Dan berikiut hasil jepretan kelompok
Zoom. Cekidot :)
 |
| Jalan T. Nyak Arief (Prada) Banda Aceh (Foto : Al Muhajjir) |
SERIBU
Sudah Seribu hari Ainun pindah ke dimensi dan keadaan berbeda.
Lingkunganmu, kemampuanmu, dan kebutuhanmu pula berbeda. Karena cinta
murni, suci, sejati, sempurna dan abadi tak berbeda. Kita tetap
manunggal, menyatu dan tak berbeda sepanjang masa.
Ragamu di Taman Pahlawan bersama Pahlawan bangsa lainnya. Jiwa, roh,
bathin dan nuranimu menyatu denganku. Di mana ada Ainun ada Habibie, di
mana ada Habibie ada Ainun. Tetap manunggal dan menyatu tak terpisahkan
lagi sepanjang masa.
"Titipan Allah bibit cinta Ilahi pada tiap insan kehidupan di mana pun.
Sesuai keinginan, kemampuan, kekuatan dan kehendak-Mu Allah. Kami siram
dengan kasih sayang, cinta, iman, taqwa dan budaya Kami, Yang murni,
suci, sejati, sempurna dan sbadi sepanjang masa.
Allah, lindungi kami dari godaan, gangguan mencemari cinta kami. Perekat
kami menyatu, manunggal jiwa, roh, bathin dan nurani kami. Di mana pun,
dalam keadaan apa pun kami tetap tak terpisahkan lagi.
Seribu hari, seribu tahun, seribu juta tahun ........... sampai akhirat !
Kasab atau kerajaninan
benang emas dikenal secara luas sebagai sulaman khas tradisional dari Aceh yang
dibuat diatas kain beludru. Ukiran Kasab terdiri dari banyak motif yang pada
umumnya berbentuk flora yang disulam dengan rapi bahkan dihiasi dengan
manik-manik berwarna emas. Bagi masyarakat tradisional aceh penggunaan kasab
sama halnya dengan penggunaan rencong, jenis kasab bisa mewakili derajat atau
menjadi parameter status sosial, misalnya bagi raja dan rakyat umum bentuk dan
coraknya akan sedikit berbeda dari segi warna dan unsurnya. tapi sekarang
perbedaan itu sudah tidak terlalu dipermasalahkan dan bahkan disetarakan.