Hari ini cuaca memang tidak bersahabat, cuaca masih saja seperti beberapa hari sebelumnya ketika aku tiba di kampung halaman ku ini. Cuaca di sini sangat berbeda jauh dengan cuaca di kota Banda Aceh. Bila di Banda Aceh cuacanya panas, untuk keluar saja enggan rasanya, namun di kampung halamanku, Aceh Barat Daya, hampir tiap hari mendung, bahkan tidak jarang hujan pun turun menghampiriku. Senang rasanya melihat hujan. Karena aku memang penikmat hujan, aku sangat suka dengan tetesan-tetesan hujan yang turun dari langit itu. Apalagi tetesan itu menyentuh tanganku.
Makcek Rus datang kerumah, berbincang-bincang dengan Mak. Banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari pemilu yang sebentar lagi di adakan. Aku asik bermain dengan laptop didepanku. Selain kami bertiga juga ada Kak Mur, kakak perempuanku yang sedang menunggu waktu untuk melahirkan buah hatinya, dan juga ada Mak Ri, ikut berbincang dirumah ku yang sederhana. Sesekali diambilnya sirih di atas puan lalu diolehnya kapur ditambahkan dengan pinang. Kemudian beliau memakannya sambil bercerita tentang kisah masa kecilnya yang penuh dengan kebahagiaan. Ada lucu juga kadang kala ketika mendengar cerita dari Makcek Rus, bahkan tak heran hampir semua penghuni dirumahku tertawa mendengar cerita Makcek Rus, tidak terkecuali aku.
Ketika hati ini rindu seseorang yang telah lama berlalu, ya dia berlalu begitu lama ketika aku meninggalkan kampung halaman ku. Hanya sempat bertahan beberapa bulan setelah itu. Kini aku benar-benar rindu akan hadirnya. Meski tidak banyak kenangan yang tercipta di antara kita. Berlalu dengan berjalannya waktu, bahkan aku tidak bisa bangkit dari keterpurukan. Kadang kala aku diam-diam masih buka halaman pesbuk miliknya, melihat dan membaca status-statusnya. Ya, hanya itu yang bisa aku lakukan. Tuhan, bantu aku melupkannya yang telah lama berlalu. Beri aku pengganti selain dia.
Sempat beberapa kali berkomunikasi dengannya, ketika dia bertanya gimana keadaannya, pasti sudah ada yang bisa menggantikannya. Dan aku hanya bisa berbohong dengan sekelumit perasaan. Mungkin memang benar kata orang cinta pertama itu memang susah untuk di lupakan. Dan ini terbukti, aku masih merindukan gadis impian ketika masih putih abu-abu dahulu.
Hari demi hari berlalu dengan begitu cepatnya, tidak terasa hari ini sudah Minggu. Hemm, masih terbayang rasanya ketika jurit malam itu. Terfikirkan sebelumnya, kenapa ada yang jatuh pinsan segala. Namun begitu lah kenyataan yang harus di hadapi. Ketika acara jurit malam sudahmenjadi tradisi yang harus wajib di laksanakan. Jurit malam hanya untuk mengetes keberanian. Seberapa berani dia ketika sudah menjadi seorang dokter. Namun apa hubungannya jurit malam dengan dokter..??? Tentu saja ada hubungannya. Jurit malam adalah hal yang di lakukan untuk menakut-nakuti agar menjadi lebih berani. Nah seorang dokter itubekerja di rumah sakit,dan setiap rumah sakit pasti ada kamar mayat, setidaknya ini memberikan pengalaman suatu saat nanti tidak akan takut lagi dengan hal yang bau mistik ketika sudah berada dan bekerja di rumah sakit.
"Rendi..???" seseorang memanggilku dari kejauhan, dengan sontak aku menoleh kerah si empunya suara. Aku tersenyum melihat kearah suara itu. "iya, Sis, ada apa..???" tanya ku pada Siska, gadis imut dengan lesung pipi di wajahnya. Ku lihat di memakai kemeja kotak-kotak warna merah muda, yang di padukan dengan celana Jeans ketet, tak luput kaca mata minus yang melekat di matanaya. Ia terus berjalan ke arah ku. Dengan santainya sambil memakai tas selempang ala cowok-cowok keren dalam film-film.
Bernyanyi dalam pekat malam, menyisiri lorong-lorong gelap nan pekat. Bagai tak ada cahaya yang menerawang masuk melalui celah-celah yang ada. Purnama begitu pekat malam ini. Purnama begitu bersaja menerangi setiap celah negeri ini. Namun mengapa aku tak merasakan cahayanya itu.
Dasar bodoh..
Aku tertegun mendengar perkataan itu.
ya mungkin aku memang bodoh, karena tidak mungkin aku merasakan cahaya purnama itu
Lorong-lorong ini tertutup dengan seng, dan di batasi dengan tembok-tembok yang tinggi menjulang. Langkah demi langkah bergerak dengan pasti menuju arah depan yang tak tahu akan tembus kemana?
Mungkin aku tersesat, lorong ini bagaikan labirin yang berputar-putar di satu tempat
Raungan-raungan nakal mulai menakuti di setiap langkah. Kadang aku berhenti menoleh kebelakang, namun aku tak melihat ada orang di belakang sana, fikiranku berkelana. Aku bagaikan di ikuti oleh bayangan-bayangan ketakutan.
"Lisa...???" Aku berteriak memanggil-manggil nama Lisa. Bukankah tadi dia bersamaku menyusuri lorong-lorong gelap nan pekat ini? namun kemana dia pergi. Menghilang antara lorong yang menyeramkan ini. Dan masih berteriak memanggil-manggil nama Lisa. Apakah aku harus kembali mencari Lisa? atau aku harus terus bergerak kedepan, agar aku terbebas dari kegelapan ini.
Telalu banyak persimpangan nan gelap di sini, mungkin Lisa memasuki salah satu lorong itu. Atau aku yang telalu cepat berjalan sehingga aku meninggalkan Lisa di belakang.
Panas, gerah. Itulah kesan hari ini yang begitu membuat badan begitu capek. Apalagi dengan ngatri selama tiga jam hanya untuk mengujukan judul skripsi yang membuat kepala ini pecah.
“hari ini, pak Ham rame juga pasiennya ya” ujar Sari, yang duduk di sebelahku.
“hahhaa, lumayan juga kata ku. Di dalam aja ada 6 orang, belum lagi yang di luar lagi pada ngantri” ujarku seadanya.
“laelah. Kapan kita siap ni. Udah jam berapa coba?” sambil menujukkan jam tangannya di lengan kanan Sari. Dan aku pun merogeh kantong mengambil handphone melihat angka yang tertera di sana.
“udah jam setengah 5 ni. Aku shalat dulu ya” ujarku pada Sari.
“Ok” balasnya sambil tersenyum.
Malam ini dingin, sedingin hatiku yang sedang galau, mungkin aku rindu. Rindu akan hadirmu yang telah lama ku tunggu-tunggu. Namun aku tak berhak untuk merindui mu. Karena kau bukan milikku lagi. Tapi otak ini susah untuk dikendalikan. Masa indah itu kembali terlintas di benak ini. Apa yang harus aku lakukan, Ketika aku galau di buat oleh mu, yang kini bukan milik ku lagi. Mungkin rasa cinta itu masih ada. Masih terpatri dalam hati.
Ah, kenapa kenanga-kenangan itu kembali teringat di benak ini. Bukan kah kau telah pergi menjauh dari ku. Biarkan saja, itu hanya sebuah kenangan yang menjadi sejarah. Kenangan cinta kita. Saat-saat indah ketika kita masih bersama. Aku masih ingat ketika awal kita bertemu dulu, di kantin sekolah kita. Aku marah-marah padamu,karena kau menyenggolku dan menumpahkan minuman yang ada di tangganmu mengenai bajuku. Hanya kata maaf yang keluar dari mulutmu yang seksi itu. Aku sadar aku marah-marah tanpa melihat betapa manisnya dirimu, aku terlalu sibuk membersihkan baju seragamku. Namun kau terus meminta maaf. “maafkan aku, aku tidak sengaja” hanya kata itu yang kau ulang-ulang meski aku terus memaki-maki dirimu. Mungkin kenangan itu terlalu singkat untukku. Namun apa yang harus ku perbuat. Tuhan berkehendak lain.
Pagi ini hujan lagi seperti sebelumnya, dingin membeku membahana jiwa ini. Damai bersama tetesan hujan yang turun pagi ini. Kala hujan menyapa entah apa yang terpikirkan, semua terabut kabut dengan kecemasan yang tidak menentu. Dear hujan, biarkan aku bercirita tentang kisah-kisah yang luka, tangisannya seiring dengan turunnya dari mu dari langit sana. Karin tak dapat membedakan lagi, mana air matanya dengan hujan yang turun kala itu. Badannya terasa basah dengan tetesan-tetesan hujan yang turun kala itu.
Semua berlalu begitu saja, dengan luka-luka yang telah terobati. Karin berusaha untuk tetap melanjutkan hidupnya meski tidak ada lagi kekasih hati. Biarkan ia pergi, hubungan ini tidak akan berhasil tanpa restu orang tua. Karin akan melanjutkan perjodohan itu. Karin begitu takut di anggap sebagai anak durhaka, karena dia tidak ingin menyakiti hati orangtuannya, biarkan saja hatinya yang sakit menerima kenyataan ini.

Di luar masih hujan dengan derasnya. Dan aku tertahan disini, tak bisa pulang. Rinai hujan begitu damai dengan iramanya. Ya aku selalu bahagia setiap hujan menyapa Negeri ini. Negeri yang kaya akan keindahan dunia. Kau tahu hujan itu menyimpan bejuta kenangan dari setiap butirnya. Begitu indah dan nyata. Terasa damai bila melihat ia turun dari langit-Nya.
Masa lalu kini memang telah berlalu, namun ia kini menjadi kenangan yang sangat berharga bagi setiap makhluk yang bernama manusia. Masa lalu yang menjadi kenangan dapat hadir kapan saja sesuka hatinya. Kini masa lalu yang penuh dengan kenangan itu kembali teringat. Meski kesakitan jiwa bila mengingatnya.
Mungkin kau begitu sempurna yang begitu sulit untuk dilupakan. Semenjak kau pergi menghadap-Nya, diri ini terasa hampa dalam kesendirian. Sulit memang untuk melupakan masa terindah itu. Tak ada alasan yang kuat bagiku untuk melupakanmu begitu saja dalam hati ini.
''Aku takut, aku tidak akan bahagia nanti. Dia seperti anak-anak. Mungkin aku akan bahagia bersama orang lain selain dia'' ceritanya dengan pasrah. Yani akhir-akhir ini dekat dengan seorang pria teman dari temannya ketika masih SMP dulu. Fikar begitu pria itu disapa sama teman-temannya.
''lalu siapa yang akan menjamin kau akan bahagia dengan orang lain, beb?'' Tanya Iqbal melalu telepon selulernya ketika Yani bertanya itu kepadanya.
''bukankah kebahagiaan itu datang setelah ada kebersamaan? Seharusnya kau nikmati dulu kebersamaan itu bersamanya, dan kebahagiaan akan datang. Atau jika nanti kau tidak menemui kebahagiaan yang kau cari. Kau bisa mengakhiri hubungan itu'' jelasnya dengan pasti kepada Yani.
Oleh :Rahmat Amien
Aku melihat semburat senyum diwajahmu.
Kau berusaha melawan fatamorga, melawan kerasnya hidup ini.
Kau begitu tegar menghadapi kenyataan hidup ini,
Tak pernah ku lihat kau menangis mengeluh keadaan ini.
Kau selalu tersenyum, menahan kesedihanmu
Asa dan impianmu terlalu tinggi untuk membahagiakan anak-anakmu
Tak pernah ku lihat kau lelah, walau tidurmu hanya sebentar saja
Kau begitu bekerja keras
Berharap asa-asamu akan menjadi kenyataan
Yang akan merubah hidup dan keadaan ini
Oleh : Rahmat Amien
''Rif
apa yang harus aku lakukan, aku belum sanggup. Belum sanggup Rif menerima
kenyataan ini'' suara Firman memecahkan keheningan di sore yang terlihat
mendung, dan gerimis mulai turun dari langit yang indah. Di teras depat rumah
Arif duduk Firman yang sedang membutuhkan teman curhat untuk masalahnya. Sambil
ditemani dengan secangkir Kopi buatan Mak Aisyah, ibunya Arif. Selama ini
Firman sering kesini menceritakan keluh kesah yang dihadapinya.
''jika kau tak sanggup mengapa kau melakukan itu Man??'' tanya Arif ''kau harus
mempertanggung jawabkan perbuatanmu atas Rina''
''tapi
Rif, aku benar-benar belum siap menerima kenyataan ini, apa yang harus aku
katakan pada Mak di kampung. Pasti dia kecewa Rif''
''lalu
apa yang akan kau lakukan Man, apa kau akan menyuruhnya untuk menggugurkan
kandungannya?? Apa kah kau setega itu membunuh calon anakmu sendiri?''
pernyataan Arif membuat Firman diam, karena merasa terpojok.
''maafkan
aku Rif, aku khilaf aku tidak sengaja melakukannya''
''buat
apa kau minta maaf padaku Man, cukup kau minta maaf pada Allah, Rina dan Mak mu
di kampung''
''lalu
aku harus bagaimana Rif, tolong aku'' Firman merengek dengan nada putus asa
''nikahilah
Rina, cuma itu yang harus kau lakukan Man''
''aku
belum siap Rif''
''lalu
kapan kau akan siap, ini akibat yang harus kau tanggung Man. Karena hidup ini
sebab akibat'' Firman hanya diam, pandangannya tertuju keluar menyaksikan
gerimis yang menjadi hujan turun membasahi bumi. Tatapannya kosong melihat
rinai-rinai hujan.
***
Oleh : Rahmat Amien
Ditengah panasnya cuaca Ibukota, penat rasanya bila
berada di sini, di jalan yang penuh dengan hiruk pikuk kendaraan yang berlalu
lalang. Tapi itu harus di jalani, semua demi masa depat yang lebih cerah
tentunya. Ini mungkin perjuangan untuk mencapai masa depat yang lebih baik. “Kenapa aku harus disini. Harus jauh dari
orang tua. Ternyata memang capek hidup sendiri. Handphone ku tiba-tiba bergetar”
aku bergumam dalam hati yang di kejutkan dengan suara HP yang bordering dan
menggetarkan saku celana ku ini,ku lihat sebuah nomor baru memanggil.
Aku terhentak ketika mendengar sebuah pertanyaan
dari seorang taman “sebenarnya pacaran
itu, budaya islam atau budaya kafir sih..??” Tanyanya padaku. Aku bingung harus menjawab apa, karena tahu
dalam islam itu memang tidak di perbolehkan untuk pacaran. Namun dari segi lain
orang-orang berpendapat pacaran adalah satu langkah menuju ke jenjang yang
lebih serius. Namun banyak juga sebuah hubungan yang sudah dijalin lama
akhirnya kandas karena ada yang merasa tidak ada saling kecocokan lagi.
“Hai gam?
Melamun saja kau hari ini” sebuah suara yang mengejutkan lamunanku. Dan ku
toleh kearahnya, dan ku berikan sebuah senyuman untuknya.
Hari ini hujan masih mengguyur dengan derasnya. Suasana menjadi dingin dengan
hembusan angin yang begitu kencang di luar. Ku tertahan di sini menunggu hujan
reda untuk pulang. Drrrrttt... Drrrrrtt.... Sebuah getaran yang diiringi dengan
suara tininit. Segera ku ambil ponsel merek nokia X2 dari saku celanaku. Ku
lihat di layar ponsel sebuah nama yang tidak asing lagi bagiku. My lovely Wife.
Nama itu yang tertera di layar ponselku. Ku buka dan ku baca pesan itu. ''Bi,
jemput Umi dan Dian di sekolah. Hujan deras kali Bi''.
Kembali terbayang kenangan masa lalu, 20 tahun silam. Awal aku berjumpa dengan
Istriku. Hujan deras kala itu. Kita sama-sama terjebak. Di sebuah sekolah yang
sama, SMPN 1 Kuala Batee.
Hujan reda, ku beranikan diri menawarkan diri untuk mengantarmu pulang dengan
sepeda ontel ku. Di bawah hujan yang kini mulai gerimis ku antarkan perempuan
yang kini ku sebut dengan nama Umi pulang ke rumahnya. Kita tersenyum di atas
rinai air yang jatuh dari langit itu.
Seiring tubuhnya
usia ku, aku mulai mengenal akan cinta, namun cinta ku tidak hanya untuk dia
saja. Dia gadis cantik berkerudung biru, aku selalu terpana ketika melihatnya. Ada
rasa malu ketika melihatnya, dan bahkan aku sering senyum-senyum sendiri. Apakah
ini gejala bahwa aku sedang jatuh cinta kah?
Jika benar tidak salah jika semua
teman-temanku mengatakan cinta itu indah. Indah memang, namun aku belum sanggup
untuk berpacaran, aku ingat ketika mengikuti sebuah pengajian di sekolah ku,
Ustad yang menjadi penceramah pernah mengatakan ““Dan janganlah kalian
mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan
sejelek-jelek jalan. (QS. Al-Isra`: 32)”
Aku takut akan
hal itu, setiap aku ingin mendekati seorang cewek, selalu teringat akan kalimat
itu. Mungkin aku satu-satunya cowok di kelasku yang belum pernah merasakan
pacaran. Bahkan teman-teman menyarankan agar aku cepat-cepat pacaran, agar bias
merasakan indahnya pacaran tersebut. Kadang kala aku ingin menuruti saran
teman-teman ku.
 |
| Sumber: Google |
Hamparan ilalang terbentang luas,
masih seperti dulu saat kita masih bermain disini 2 tahun lalu. Padang ilalang
ini menjadi saksi bisu kisah kita. Aku, kau dan dia, Tomi sahabat kita.
Aku mengenang kisah itu sebagai
kenangan terindah. Disini aku hanya bisa mengenang masa indah ini, duduk di
bukit nan indah, tempat biasa kita bertiga bermain bersama. Hembusan angin laut
mengacak-ngacak rambutku, kini hanya aku dan Tomi mengenang kisah kita, Adit.
''kini cuma tinggal kita berdua Tom''
aku menatap Tomi sahabat ku satu-satunya. Sambil bersandar di bahunya menatap
lautan nan lepas.
''jangan bersedih Rina, pasti Adit sudah
tenang di sana. Di tempat terindah'' padangan Tomi seolah kosong menatap hamparan
laut yang luas terbentang. Aku hanya bisa bersandar di bahu Tomi, sambil
mengenang kisah ku yang pilu. Adit pergi karena sakit yang di deritanya selama
ini.
Senin siang, tepat jam 11:30 hape ku berbunyi. sebuah nada pesan SMS singkat masuk. Namun tidak aku pedulikan, karena kau lagi sibuk main Facebook, rasanya menggagu sekali jika ada sebuah pesan masuk. "
Siapa lagi yang SMS, menggangu saja" fikirku.
Beberapa Menit Kemudian kututup aplikasi facebook yang ada di layar hapeku, dan aku membuka kotak masuk untuk melihat siapa yang meng
SMS. Sebuah nama yang tidak asing lagi bagiku, Kakang Begitu nama yang tertera di layar hapeku. segera ku buka dan ku baca.
"Mad, Si Wiwin Rinaldi kecelakaan tadi ma mobil...blg ma si herman y.."
 |
| Sumber : Google |
Mungkin aku rindu. Kehadiran mu selalu ku tunggu. Namun
aku tak berhak untuk merindui mu. Karena kau bukan milikku lagi. Tapi otak ini
susah untuk dikendalikan. Masa indah itu kembali terlintas di benak ini. Apa
yang harus aku lakukan, Ketika aku galau di buat oleh mu, yang kini bukan milik
ku lagi. Mungkin
rasa cinta itu masih ada. Masih terpatri dalam hati. Mungkin kenangan itu
terlalu singkat untukku. Namun apa yang harus ku perbuat. Tuhan berkehendak
lain. Harapan demi harapan hilang diterjang badai api cemburu, ketika hati
mulai bergemuruh, dada terasa sesak. Masih teringat kalimat yang keluar dari
bibir manismu itu, “kita sudah tidak
cocok. Lebih baik kita berteman saja”. Hati ini bagai bagai teriris-iris
sembilu. Menangis menahan sakit yang menyesakkan dada. Ah, ku pikir kau memang
tercipta untukku, namun aku salah. Ah buat apa aku menyalahkan diri sendiri,
mungkin sekarang kita berpisah dan kita tidak tahu apa rencana tuhan yang
sebenarnya. Mungkin memang benar, tulang rusuk ku yang hilang diciptakan
untukmu.
Aku
tidak akan menyalahkan tuhan, kenapa kita berpisah, aku cukup intropeksi diri.
Karena menjalin sebuah hubungan itu mamang susah, apalagi jarak jauh atau
bahasa kerennya LDR. Mungkin tuhan memang menginginkan yang terbaik untuk ku,
dan mungkin itu kamu. Namun tuhan tidak memberikannya sekarang, karena belum
saatnya. Karena kau belum halal bagi ku.