Jam baru menunjukkan angka 03:00 sore, orang-orang sudah mulai berdatangan. Membantu apa yang bisa dikerjakan, sedangkan aku hanya asyik menonton film kemerdekaan di ShineTV. Tak ku hiraukan apa yang di kerjakan di dapur sana. Fikirku itu memang bukan tugas seorang laki-laki harus ikut memasak dengan para ibu-ibu. Ini bukan rumahku, hari ini aku sedang berada di rumah Cut Lot, adik bungsu dari Mak. Rumahnya memang tidak jauh dari rumah, untuk tiba dirumah Cutlot, aku bisa menghitung langkah kaki.
 |
| rodivbosid.blogspot.com |
Besok sudah tiba saatnya mencoblos, dan malam ini rencana akan ada pembacaan surat yasin di rumah Cutlot, memohon doa kepada yang Esa untuk memenangkan caleg yang mereka dukung. Dan disini aku tidak ingin menyebutkan nama partai tersebut. Mungkin ini adalah cara terakhir di tempuh untuk memenangkan pemilu esok hari.
Hari ini cuaca memang tidak bersahabat, cuaca masih saja seperti beberapa hari sebelumnya ketika aku tiba di kampung halaman ku ini. Cuaca di sini sangat berbeda jauh dengan cuaca di kota Banda Aceh. Bila di Banda Aceh cuacanya panas, untuk keluar saja enggan rasanya, namun di kampung halamanku, Aceh Barat Daya, hampir tiap hari mendung, bahkan tidak jarang hujan pun turun menghampiriku. Senang rasanya melihat hujan. Karena aku memang penikmat hujan, aku sangat suka dengan tetesan-tetesan hujan yang turun dari langit itu. Apalagi tetesan itu menyentuh tanganku.
Makcek Rus datang kerumah, berbincang-bincang dengan Mak. Banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari pemilu yang sebentar lagi di adakan. Aku asik bermain dengan laptop didepanku. Selain kami bertiga juga ada Kak Mur, kakak perempuanku yang sedang menunggu waktu untuk melahirkan buah hatinya, dan juga ada Mak Ri, ikut berbincang dirumah ku yang sederhana. Sesekali diambilnya sirih di atas puan lalu diolehnya kapur ditambahkan dengan pinang. Kemudian beliau memakannya sambil bercerita tentang kisah masa kecilnya yang penuh dengan kebahagiaan. Ada lucu juga kadang kala ketika mendengar cerita dari Makcek Rus, bahkan tak heran hampir semua penghuni dirumahku tertawa mendengar cerita Makcek Rus, tidak terkecuali aku.
 |
| batincity.blogspot.com |
Seumapa, pernah kah Anda mendengar kalimat tersebut..?? Ane sering sekali mendengar kalimat tersebut. Seumapa jika diartikan kedalam bahasa Indonesia berarti keteguran. Namun orang kampung ane menyebutnya dengan kata seumapa. Seumapa atau keteguran adalah suatu peristiwa yang berupa penyikit yang disebabkan disapanya kita oleh makhluk gaib. Apakah itu setan, hantu atau sejenisnya. Ane gak tahu juga, karena ane gak pernah lihat tampang mereka. Hehehe
Seumapa termasuk juga hal yang mistis, karena berhubungan dengan hal-hal yang gaib. Yang namanya orang kampung selalu terikat dengan hal-hal yang mistis. Setiap orang yang terkena seumapa biasanya mengalami sakit kepala, lemas, suhu panas tinggi (demam) atau bahkan tidak bisa bergerak lagi seperti orang pinsan. Menurut orang kampung ini karena mereka disapa oleh makhluk yang tidak terlihat.