Hari ini cuaca memang tidak bersahabat, cuaca masih saja seperti beberapa hari sebelumnya ketika aku tiba di kampung halaman ku ini. Cuaca di sini sangat berbeda jauh dengan cuaca di kota Banda Aceh. Bila di Banda Aceh cuacanya panas, untuk keluar saja enggan rasanya, namun di kampung halamanku, Aceh Barat Daya, hampir tiap hari mendung, bahkan tidak jarang hujan pun turun menghampiriku. Senang rasanya melihat hujan. Karena aku memang penikmat hujan, aku sangat suka dengan tetesan-tetesan hujan yang turun dari langit itu. Apalagi tetesan itu menyentuh tanganku.
Makcek Rus datang kerumah, berbincang-bincang dengan Mak. Banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari pemilu yang sebentar lagi di adakan. Aku asik bermain dengan laptop didepanku. Selain kami bertiga juga ada Kak Mur, kakak perempuanku yang sedang menunggu waktu untuk melahirkan buah hatinya, dan juga ada Mak Ri, ikut berbincang dirumah ku yang sederhana. Sesekali diambilnya sirih di atas puan lalu diolehnya kapur ditambahkan dengan pinang. Kemudian beliau memakannya sambil bercerita tentang kisah masa kecilnya yang penuh dengan kebahagiaan. Ada lucu juga kadang kala ketika mendengar cerita dari Makcek Rus, bahkan tak heran hampir semua penghuni dirumahku tertawa mendengar cerita Makcek Rus, tidak terkecuali aku.
Hujan. Rinainya membasahi genteng rumahku. Deras, cuma sebentar bagai angin lalu. Ini malam minggu, rinainya turun dengan perlaan, dingin. "Hujan adalah aku" terlintas kata itu di benakku. Ya, hujan adalah aku. Semua orang mengatakan itu bahwa setiap hujan datang pasti ada aku dibaliknya. Oia aku lupa memperkenalkan diri, Namaku Rahmat sedangkan nama belakangku aku ambil dari nama Ayahku Muhammad Amin. Aku hanya mengambil kata belakang dari nama Ayahku saja, yaitu Amin. Jadi namaku adalah Rahmat Amien, meski di akta kelahiranku jelas-jelas hanya tercantum nama Rahmat saja, tidak ada kata Amin-nya. Ah, lupakan itu.
Hujan adalah Rahmat, sering sekali aku mendengar kata itu. Betapa beruntungnya orang yang bernama Rahmat. Betapa tidak rahmat itu paling dibutuhkan semua orang, termasuk ketika hujan turun. Aku senang melihat hujan, hujan itu indah bagiku. Meski ia membuat kedinginan kadang kala. Mungkin aku lahir kala hujan turun, makanya orang tuaku memberi namaku dengan kata Rahmat. Ah, aku lupa menyanyakan itu kepada Mak yang telah melahirkan ku, dan kini kutinggalkan ia ikapung tepat kelahiranku Krueng Pantoe, Aceh Barat Daya.
Hal sepele yang di lakukan akan menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi orang
lain. Aku punya seorang Ayah yang sangat perhatian, namun di balik perhatiannya
membuat aku malu, harus menerima ejekan dari teman-temanku. Kejadian ini
terjadi ketika aku masih duduk di kelas 2 SMP di kotaku, pagi itu, Ayah
mengambil pulpen dari tas yang sering kupakai untuk kesekolah. Padahal aku
memilki pulpen lebih dari satu dalam tas itu.
Sebelum menuju kesekolah, aku bersalaman kepada kedua orang tuaku dan meminta
sedikit uang jajan, dan ku lihat Ayahku sedang menulis, namun aku tidak begitu
menghiraukannya. Beberapa menit kemudian ketika aku sudah berada dalam ruang
kelas, aku langsung mengambil posisi duduk dan mengambil sebuah buku dan pulpen,
karena bel sekolah memang sudah di bunyikan. Ternyata pulpen yang ada di dalam
tasku itu sudah tidak kehabisan tinta, sehingga aku harus meminjam kepada
kawanku.
Malam
ini aku merasa bahagia, entah apa yang terjadi, namun aku benar-benar
bahagia. Ya ini bahagia dadakan tanpa ada sebab. Jam masih menunjukkan
angka 23:47, jadi masih ada sisa 13 menit lagi untuk sekedar main
pesbukan.
13 menit berlalu, waktu begitu cepat berjalan tanpa terasa, namun
aku harus menyelesaikan tugasku sebagai operator warnet. Pengganti ku
sudah datang, dan ia sedang membaca koran hari ini, ia duduk di bangku
depan, sambil mengangkat kaki kirinya yang diletakkan di atas paha kaki
kanannya. Dia begitu menikmati suguhan berita hari ini. Sempat ku lihat
dia membuka halaman olahraga, seorang lelaki pasti lebih suka membaca
tentang olahraga meski ia tidak suka berolahraga. Aku salah satunya. Aku
tidak suka berolahraga, namun aku suka membaca berita-berita tentang
olahraga.
Hujan. Suasana menjadi
dingin. Air tergenang dimana-mana. Hujan begitu deras tadi. Sehingga air ii
begitu cepat tertampung. Bahkan air menggenangi jalan-jalan, tap ini bukan
bajir, karena airnya terlalu sedikit. Sesekal ku melihat ke sekitar, orang-orang
sibuk dengan kegiatan masing-masing. Di sebelah kananku ada seorang ibu yang
sibuk memindahkan beberapa pot bunga yang tergenang air. Di samping kananku,
airnya memang tergenang, ini bagaikan danau air hujan. 3 ekor bebek berada tidak jauh dari hadpan
ku. Mereka merasakan bulir-bulir gerimis yang turun dari langit.
3 ekor kucing ada di
sebelah kiriku, namun badan mereka basah dengan air hujan. Satu duduk diatas
kursi sedangkan dua lainnya di bawah. Sesekali ku melihat seperti ada cinta
segi tiga antara 2 kucing jantan dan satu kucing betina. Kucing yang duduk di kursi
mengeong ketika 2 kucing yang di bawah berdekatan. Lalu sang kucng yang duduk
di atas kursi turun dan mengganggu 2 kucing yang yang sedang berpacaran
dibawah. Kacau 2 kucing yang d bawah merasa terganggu sehingga 2 kucing jantan
berantam dan kabur ketika ada pemilik
ruko di sebelahku meleraikan perkelahian mereka, namun aku tidak sempat
mengambil momen tersebut yang menurutku lucu dan unil kisah cinta segitiga
kucing.
Titik-tirik
gerimis mulai turun satu persatu membahasi bumi ini. Ku lihat dia
menjulurkan tangan ingin merasakan hujan. Ada sesuatu yang dirasakannya.
Aku tak tahu itu, namun juga ada sedikit emosi marah melekat di
wajahnya, aku dapat melihat itu, hari ini dia marah-marah saja.
Kau tahu mengapa ia marah??? Aku tahu itu, ia menganggapku seorang
pemalas yang enggan membereskan maupun membersihkan istana tempat
tinggal kami. Aku sengaja melakukan itu, aku ingin melihat ekspresi dia
bagaimana. Namun kelakuanku ini memang membuatnya marah padaku, bahkan
di sepanjang perjalanan menuju kampus dia enggan berbicara padaku,
kecuali ada hal penting yang ingin dia tanyakan padaku.
senja demi senja telah berlalu meninggalkan lembayungnya. Indahnya
masih terasa, membekas bagi pengagum senja. Aku tak tahu, sejak kapan
aku menyukainya. Setiap ku tatap senja, hatiku selalu mengingatkan pada
sesuatu yang aku tidak ketahui sama sekali. Sepertinya kisah itu indah,
tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya?? Atau aku hanya bermimpi. Ini
seperti ilusi, mungkin aku berkhayal terlalu tinggi. Dan aku takut aku
akan terjatuh dari hanyalan semu itu.
 |
| Sumber : Google |
Hari ini hujan kembali mengguyur kota tempat tinggalku. Rinai-rinai
yang jatuh begitu deras menyapa genteng atap kost-kostan tempat aku
tinggal di perantauan ini. Hujan mambangkit memori-memori yang telah
berlalu.
Ku keluar menatap indahnya hujan. Sambil menjulurkan tangan kearah
hujan, menikamati rinai-rinai yang begitu menyejukkan. Ku pejamkan mata
ketika tanganku menyentuh hujan, sebuah kenangan terlihat disana. Sambil
tersenyum ku buka lagi mataku. Menyaksikan hujan turun.
Kau tahu apa yang aku lihat, sebuah kenangan masa lalu. Momori daun
pisang, begitulah judul lagu dangdut yang pernah ku dengar. Memori daun
pisang benar-benar terjadi padaku, meski ini bukan kisah cinta. Bukan.
Ini kisah cinta, cinta untuk terus besekolah.
Meski hari ini tak hujan atau pun gerimis tak menyapa, namun aku
masih baik-baik saja disini. Tetap menanti matahari tenggelam dan
menunggu bersinar kembali. Akhir bulan, semua akan berfikir hidup susah
di akhir bulan. Namun kapan bulan akan berakhir, karena bulan terus dan
terus berjalan. Namun tanggal demi tanggal berakhir kembali seperti
sedia kala.