Tega!

Malam ini dingin, sedingin hatiku yang sedang galau, mungkin aku rindu. Rindu akan hadirmu yang telah lama ku tunggu-tunggu. Namun aku tak berhak untuk merindui mu. Karena kau bukan milikku lagi. Tapi otak ini susah untuk dikendalikan. Masa indah itu kembali terlintas di benak ini. Apa yang harus aku lakukan, Ketika aku galau di buat oleh mu, yang kini bukan milik ku lagi. Mungkin rasa cinta itu masih ada. Masih terpatri dalam hati.

Ah, kenapa kenanga-kenangan itu kembali teringat di benak ini. Bukan kah kau telah pergi menjauh dari ku. Biarkan saja, itu hanya sebuah kenangan yang menjadi sejarah. Kenangan cinta kita. Saat-saat indah ketika kita masih bersama. Aku masih ingat ketika awal kita bertemu dulu, di kantin sekolah kita. Aku marah-marah padamu,karena kau menyenggolku dan menumpahkan minuman yang ada di tangganmu mengenai bajuku. Hanya kata maaf yang keluar dari mulutmu yang seksi itu. Aku sadar aku marah-marah tanpa melihat betapa manisnya dirimu, aku terlalu sibuk membersihkan baju seragamku. Namun kau terus meminta maaf. “maafkan aku, aku tidak sengaja” hanya kata itu yang kau ulang-ulang meski aku terus memaki-maki dirimu. Mungkin kenangan itu terlalu singkat untukku. Namun apa yang harus ku perbuat. Tuhan berkehendak lain.

Harapan demi harapan hilang diterjang badai api cemburu, ketika hati mulai bergemuruh, dada terasa sesak. Masih teringat kalimat yang keluar dari bibir manismu itu, “kita sudah tidak cocok. Lebih baik kita berteman saja”. Hati ini bagai bagai teriris-iris sembilu. Menangis menahan sakit yang menyesakkan dada. Ah, ku pikir kau memang tercipta untukku, namun aku salah. Ah buat apa aku menyalahkan diri sendiri, mungkin sekarang kita berpisah dan kita tidak tahu apa rencana tuhan yang sebenarnya. Mungkin memang benar, tulang rusuk ku yang hilang diciptakan untukmu.

Aku terus menangis sepanjang malam, mengingat kenapa kau harus melakukan ini padaku, hati ini terlalu sakit menerima kenyataan, apakah aku harus menyalahkan tuhan atas kerana kau putuskan cintaku yang tulus padamu. Aku tak tahu, apakah aku harus menyalahlakan tuhan atas kepergianmu dari hidupku.

***

Maafkan aku, yang telah menyakiti hatimu. Sejujurnya aku tak tega memutuskanmu. Karena kau sangat berarti dalam hidupmu. Namun kenyataan itu akan lebih pahit lagi ketika tahu aku hanyalah secuil dosa yang pernah hadir di hidupmu. Aku terpaksa melakukan ini, agar kau tak malu menerima kenyataan itu.

Aku sudah merencanakan ini, semenjak aku tak tahan melihat kelakuan Bapakku yang semakin hari semakin menyiksa Ibu, setiap hari Bapak terus mencaci maki Ibu, bahkan Bapak tak segan-segan main kasar kepada Ibu. Aku tak tega melihat Ibu yang setiap hari terus di siksa oleh Bapak. Mungkin ini bermula ketika Bapak mengalami gulung tikar dari usaha yang dirintisnya, semanjak itu kami harus tinggal di kontrakkan kecil.

Aku ingat hari itu aku telah bertekat untuk menghabisi Bapak. Tepat di hari aku memutaskan mu Dinda. Namun tekat ku semakin bulat ketika aku melihat Bapak sedang mengamuk di rumah, bahkan Bapak tak segan-segan untuk membunuh Ibu apalagi aku. Hari itu kesabaran ku sudah tak dapat ku tahan lagi, Bapak dengan sengaja mamasukkan perempuan selain Ibu ke rumah, aku tidak tahu siapa dia. Mungkin wanita yang ditemukan Bapak di pinggir jalan sana. Ibu tak tahan melihat kelakuan Bapak, hari itu ibu bertengkar hebat dengan Bapak. Bahkan ibu juga sempaty meminta cerai kepada Bapak. Namun Bapak tidak menggubrisnya. Malah bapak menghajar ibu tanpa ampun.

Hari itu juga aku melihat ibu di cekik oleh Bapak, aku terkesiap dan melangkah menghajar Bapak. Sedangkan wanitu itu asik duduk manis sambil melambungkan asap rokok yang di hisapnya. Bahkan Bapak semakin leluasa mencekik Ibu dan mendorongku hingga membentur tembok kontrakan kami. Aku melihat ibu semakin tidak berdaya menahan cekikan yang di lakukan oleh bapak.

Kepala ku terasa sakit, mungkin akibat dorongan yang sangat kuat oleh Bapak hingga kepala ku terbentur tembok. Aku meringis kesakitan, sambil memanggang kepala ku yang terasa sakit. Aku merasakanada sesuatu yang kental keluar dala kepalaku, dan sedikit anyir. Ya akibat benturan yang kuat itu kepala ku mengeluarkan darah segar. Sedangkan ibu semakin tak berdaya. Aku mengambil botol minuman keras yang berada tepat di sampingku, lalu aku memukul botol itu ke kepala bapak. Bapak meringis kesakitan, dan berhenti mencekik ibu. Aku segera menolong ibu, namun ibu sudah tidak dapat bergerak lagi. Aku menangis sesegukan sambil memeluk ibu.

Lalu ada aku merasakan sakit yang teramat ketika ada benda yang menusuk tepat di perutku. Bahkan aku merasakan perutku semakin di tusuk-tusuk dengan benda tajam, aku berteriak menahan sakit ketika aku di tusuk-tusuk, aku semakin tak tahan menahan sakit ini, mataku semakin lama semakin buram. Aku semakin lemas dan terjatuh tepat di atas jasad ibu. bahkan aku tak sanggup lagi membuka mata, mataku semakin lama semakin kabur, hingga akhir aku menutup mata.

Bau anyir tercium di mana-mana. Wanita itu berteriak keras meminta tolong. Bahkan bapak juga membentur kepala wanita itu ke tembok hingga ia diam, dan aku tidak mendengar suaranya lagi.

***

Aku semakin kacau, bahkan hari ini aku merasa malas untuk berangkat ke sekolah. Bunda merasa cemas, bahkan Bunda berniat memanggil dokter memeriksa keadaanku yang seang drop karena patah hati di putuskan oleh Randi.

“Apa perlu Bunda panggilakan dokter sayang” Tanya Bunda

“tidak perlu Bun, aku tidak apa-apa. Aku hanya tidak enak badan saja” jelas ku seadanya.

Hari itu aku hanya melamun di depan tivi. Mengganti canel demi canel. Bahkan aku merasa tidak ada siaran yang bagus hari itu.

“permisa. Seorang Bapak tega membunuh Istri dan Anaknya, sekarang tersangka yang berinisial WT”

 Aku terkesiap melihat om wisnu di berita itu, apa benar yang di beritakan itu? Batin ku semakin terkesiap tidak sanggup menerima kenyataan. “Om Wisnu membunuh istri dan anaknya????” aku semakin tidak menyangka. Bahkan aku berteriak histeris yang membuat Bunda kaget. Lalu aku merasa lemas, mataku semakin mengeluarkan air mata dan terjatuh tak sadarkan diri.

Share:

0 komentar